Rabu, 12 Desember 2012


Gaya Busana Adat Pernikahan Kraton Yogyakarta



Dari rangkaian upacara sakral prosesi pernikahan Keraton, yang paling ingin dilihat adalah pakaian sang Pengantin. Ya, dimana pun, pasti sang Pengantin lah yang menjadi fokus utama dalam upacara pernikahan. Oleh karena itu, saya ingin mengulas sedikit mengenai Tata Rias Busana Pengantin Adat Jawa  Jogja yang identik dengan Keraton Jogja.

Memang, sebagai rakyat biasa, tentu tidak harus menggunakan pakaian khusus laykanya tradisi Keraton, tetapi tidak salah bagi kita untuk tahu lebih dalam mengenai Busana Pengantin adatnya kan…

Yang paling terkenal dalam pernikahan adat Jogja adalah Gaya Busana Jogja Paes Ageng atau Kebesaran.



Pengantin Jogja Paes Ageng menggunakan dodot atau kampuh lengkap denan perhiasan khusus. Busana ini dipakai saat upacara Panggih atau Resepsi. Pada wanita, Paes hitam dengan sisi keemasan pada dahi, rambut sanggul bokor dengan gajah ngolig yang menjuntai indah, serta sumping dan aksesoris unik. Pengantin prianya, memakai kuluk menghiasi kepala, ukel ngore (buntut rambut menjuntai) dilengkapi sisir dan cundhuk mentul kecil.


Selain Paes Jogja Ageng, ada Paes Ageng Jangan Menir.


Busana ini digunakan pada upacara Boyongan. Berbeda dengan Paes Ageng, Paes Ageng Jangan Menir tidak memakai kain kampuh maupun dodot. Pengantin pria memakai bahu blenggen dari bahan beludru berhias bordir, pinggang dililit selendang berhias pendhing, dan kuluk kanigara menutup kepala. Busana yang dikenakan adalah baju blenggen atau bordiran. Pengantin memakai kain bercorak cinde.

Yang ketiga adalah Jogja Putri. 


Busana ini seperti kebaya umumnya dan terlihat lebih sederhana. Pengantin wanitanya bersanggul gelung tekuk berhias cundhuk mentul (kembang goyang) serta untaian melati menjuntai di dada dengan busana menggunakan kebaya beludru panjang berhias sebuah bordir keemasan dan kain batik prada. Sedangkan Mempelai pria berbusana beskap putih dipadu bawahan kain batik prada serta blangkon penutup kepala.



Busana “Paes Ageng“ Keraton Yogyakarta dan Solo


Busana dan tata rias paes ageng memiliki kesakralan dan makna filosofi tersendiri
paes ageng,solo,yogyakarta
Sebanyak 23 pengantin wanita dengan menggunakan tata rias dan busana “Paes Ageng” Keraton Yogyakarta dan Solo berjalan kaki di sepanjang Malioboro, Yogyakarta, Selasa (26/6). Meski terik matahari menyengat, masyarakat sekitar sangat antusias menonton peragaan busana dan tata rias kaum bangsawan keraton yang sangat jarang dipertontonkan.
“Tata rias dan busana paes ageng kedua keraton ini dimaksudkan untuk mengenalkan budaya Jawa khususnya budaya Keraton. Selama ini, busana tata rias keluarga Raja jarang dipertontonkan ke masyarakat umum," ujar Koordinator Acara, Ryan Budi Nuryanto, di acara Parade Paes Ageng On the Street Nol KM with FKY XXIV, Selasa (26/6)
Dengan parade ini, ingin ditunjukkan bahwa busana dan tata rias kerajaan bisa digunakan masyarakat umum. Paes ageng adalah busana yang memiliki kain batik dengan warna dasar tertentu misalnya warna hijau Gadung Mlati, dengan motif alas-alasan yang diprada (dilukis dengan air emas).
Terciptanya busana pengantin ini diperkirakan setelah adanya Perjanjian Giyanti. Waktu itu, seluruh gaya busana dari Keraton Surakarta Hadiningrat dibawa ke Keraton Yogyakarta Hadiningrat sebagai hadiah dari Susuhan Paku Buwono II kepada putranya, Pangeran Mangkubumi.
Hadiah ini merupakan wujud penghargaan kepada Pangeran Mangkubumi yang telah menang perang dengan Belanda dan berhasil memperoleh tanah kembali (saat ini menjadi Yogyakarta). Pangeran Mangkubumi pun akhirnya diangkat menjadi Raja Yogyakarta pertama dengan gelar Sri Sultan HB I.
Setelah peristiwa itu, Keraton Surakarta Hadiningrat membuat desain (gagrak) baru dengan pola bergaya barat. Biasanya busana baru ini kita kenal dengan nama beskap, langenharjan, baju teni.
Pada zaman dulu, busana dan tata rias paes ageng Keraton Yogyakarta dan Solo hanya boleh dikenakan oleh kerabat raja. Untuk di Yogyakarta, baru pada masa Sultan HB IX atau tahun 1940, masyarakat umum diijinkan memakai busana ini dalam upacara pernikahan.
“Sampai saat ini paes ageng sudah digunakan masyarakat Jawa pada umumnya saat upacara pernikahan. Paes ageng ini memiliki makna filosofi sendiri yang terkandung dalam setiap detail wajah, busana, dan aksesorinya,” ungkap Ryan.
Perias Hanifa, mengungkapkan bahwa paes ageng memiliki makna sakral. Sebelum merias pengantin wanita, perias wajib berpuasa sebelum menjalankan acara. Tujuan utamanya adalah mengendapkan perasaan untuk membersihkan jiwa dan menguatkan batin agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari petaka.
“Masyarakat Jawa percaya bahwa kebersihan dan kekuatan batin juru rias akan menjadikan pengantin yang diriasnya cantik, molek, dan bersinar,” katanya.
Salah satu peserta paes ageng, Oky Sundari, mengaku bangga menggunakan busana dan tata rias busana kerajaan ini. Ia berharap, dengan parade ini, masyarakat lebih mengenal secara dekat dan detail busana dan tata rias paes ageng. Tak hanya itu, dengan memperkenalkan busana ini, aset budaya Jawa akan tetap terpelihara.







Ambarketawang adalah sebuah kelurahan yang terletak di kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Terbentuknya Desa Ambarketawang berdasarkan Maklumat Pemerintah Provinsi Yogyakarta pada tahun 1946 yang menggabungkan empat kelurahan yakni; Kelurahan Gamping, Mejing, Bodeh, dan Kalimanjung ke dalam satu Kelurahan (Desa) yang disebut dengan Ambarketawang. Nama Ambarketawang berarti bau harum yang memenuhi angkasa.
Nama Ambarketawang diambil dari nama pesanggrahan Sultan Hamengkubuwana I, yang terletak di desa ini. Menurut sejarah, akibat perjanjian Gianti (1755), dibangunlah Kraton Yogyakarta. Saat proses pembangunan Sultan HB I sementara tinggal di sebelah barat kota Yogyakarta yang dikenal sebagai pesanggrahan Ambarketawang. Lokasi tersebut saat ini terletak di Padukuhan Tlogo.
Desa Ambarketawang meliputi 13 Padukuhan, yang terdiri 38 RW dan 110 RT, meliputi wilayah seluas kurang lebih 635.8975 Ha. Jumlah penduduk di desa ini berjumlah 19.237 Jiwa. Wilayah Desa Ambarketawang membujur dari arah utara ke selatan, dimana bagian selatan merupakan daerah perbukitan/pegunungan kapur, sedangkan daerah utara merupakan dataran.
Keberadaan Desa Ambarketawang dijalur utama Yogyakarta-Purwokerto/Jakarta, mengakibatkan wilayah desa Ambarketawang berkembang dengan pesat terutama dalam bidang perekonomian,perindustriyan, perdagangan dan kependudukan. Dengan perkembangan yang begitu pesat dengan dukungan keberadaan Kantor Kecamatan Gamping serta kantor-kantor, mengakibatkan wilayah ini menjadi pusat pengembangan Ibukota Kecamatan, dan merupakan wilayah pengembangan Kota Yogyakarta kearah barat.